Paramdina (19/07) dalam suasana hikmat, Prof. Didik J. Rachbini membuka forum diskusi tentang industrialisasi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Seperti diketahui bahwa lapangan pekerjaan menjadi masalah nasional dan mencuri atensi berbagai lapisan msyarakat indonesia. Belakangan heboh pelamar kerja membludak berkali-kali lipat dari jumlah lowongan yang tersedia.
Pada kesempatan ini, Arsjad Rasjid selaku narasumber memantik para peserta dengan presentasinya. Beberapa poin yang mendapat perhatian yakni fenoma lapangan pekerjaan, kenaikan ekonomi nasional dan mind mapping untuk mengatasi masalah.

Forum : Paramadina Meet The Leaders
Lapangan pekerjaan di masyarakat bukan masalah baru dalam priode pemerintahan sekarang. Namun, dari priode sebelumnya sudah mendapatkan alarm yang kuat. Daya serap industri yang minim dan banyaknya PHK, serta industri yang tidak lagi mampu survive menambah daftar masalah lapangan pekerjaan.
Direktur Indika Energy, Arsjad Rasjid mengungkapkan bahwa secara garis besar sumber pendapatan bagi masyarakat indonesia terbagi atas dua. Para pekerja dan pelaku usaha. Apabila lapangan pekerjaan menjadi sulit di indonesia, mestinya pemerintah mampu melihat peluang bahwa masyarakat mampu bersaing dengan masyarakat global. Jadi para pekerja di luar negeri harusnya terfasilitasi dengan layak dan baik. Bukan sebaliknya, menganggap pekerja di luar negeri sebagi upaya menyelamatkan diri sendiri.
Arsyad Rasjid menyadari sebagai pelaku usaha, sungguh tidak mudah. Banyak sekali tantangan di indoesia. Mulai dari mengurus izin, pemodalan dan regulasi yang simpang siur menjadi tantangan teknis bagi pelaku usaha yang ingin meniti di Indonesia.
Rumus 3G
Bila pemerintahan Prabowo menargetkan pertumbuhana ekonomi di atas 5%, maka perlu mind mapping jangka panjang untuk mencapainya. Maka, narasumber menawarkan fokus apasaja yang perlu di perhatikan. Beliau menyingkatnya menjadi 3G. Grow People, Go Industry dan Go Green.
Grow People artinya pertumbuhan ekonomi harus berfokus pada manusianya sebagai penggerak. Beliau memberikan istilah ‘Human Capital’ agar menjadi pusat dan penggerak utama dalam industi apapun yang dipilih menuju target 5% tersebut.
Go Indusrty bermaksud memilih industri yang optimal dan efisien. Dewasa ini, Indonesia harus memilih industri apa, sumber daya dan kesiapan Indonesia untuk dimaksimalkan. Arsjad mengakui bahwa industri seperti pertambangan batu bara sudah tak begitu relevan. Alhasil, beliau menyarankan industri ini harus melalui kajian yang baik seperti yang dilakukan era pemerintahan SBY.
Dampak besar dari industrialisi adalah mencemaran lingkungan. Go Green, harusnya bukanlah kampanye-kampanye belaka, melainkan syarat industri di jalankan. Pada kesempatan tersebut, Arsjad menerangkan bahwa Indika Enegy melakukan langkah jangka panjang, mapping dan menjadi pioneer perusahaan energi yang memikirkan dampak lingkungan.
Maka, wacara tax carbon tak berhenti pada forum internasional sebagai wacana global. Namun, menindak lanjuti wacana tersebut sebagai semangat lingkungan, sadar bahwa generasi berikutnya harus mewarisi udara, lingkungan dan ekosistem yang bersih dan sehat.