Hai Investor muda !

Pada kesempatan kali ini, mari bahas cara menganalisa saham dengan cara fundamental.

Tanpa harus berlama, tiga matrik kunci berukut wajib menjadi perhitungan sebelum membeli saham.

Ketiga matrik yakni Price to Earning Ratio (PER), Return on Equity (ROI) dan Deviden.

Price to Earning Ratio (PER)

Jika menggunakan sebuah analogi sederhana, PER ibarat perkiraan harga wajar sebuah produk.

Saat makan bakso di gerobak/pangkalan. Anda bisa mengira harga dengan menulusuri harga dasar produk.

Tepung, daging, bumbu, dan biaya produksi. Maka, ketika Abang bakso menentukan harga bakso Rp. 15.000 (Lima belas ribu rupiah). Anda sudah dapat menilai harga tersebut mahal atau murah.

Lalu, bagaimana mengetahui nilai wajar suatu emiten saham ?

Lakukan pembagian antara nilai saham sekarang dengan laba persaham. Kita singkat menjadi,

PER = Harga saham sekarang : Laba persaham.

Semisal saham bank BRI. Perhari ini (13/04), niali saham di pasaran yakni 3.390/1Lot. Lalu cara mencari Laba bersih persaham ?

Silahkan googling Pendapatan bersih dan jumlah saham yang beredar.

Pendapatan bersih BBRI 2025 yakni Rp. 57,130.000.000.000 dengan jumlah saham yang beredar 151,560.000.000.

Maka, 57.130.000.000.000 dibagi 151,560.000.000 hasilnya adalah 377 (Pembulatan 0,9).

Setelah menemukan semua angka.

Maka hitunglah harga wajarnya. PER = Harga saham sekarang : Laba persaham.

Harga wajar Saham BBRI = 3.390 : 377 yakni 8,9. PER emiten saham BBRI adalah 8,99.

Tangkapan layar di google finance : Saham BBRI (13/04) menunjukan Rasio P/E = 9.01

Return on Equaty (ROE)

Ketika masih Mahasiswa Starata 1, Kami mengikuti sebuah event bernama Wirausaha Muda Mandiri tingkat kopertis 3.

Kami dengan brand Krakrolls berhasil menjadi juara dan menerima dana hibah sebesar Rp.10.000.000

Bagi mahasiswa, jumlah uang sebasar itu sangat membantu untuk sewa ruko, produksi awal dan upah pekerja.

Singkat cerita, bisnis kami kehabisan bensin pada bulan ke-4. Saldo Rp.0, meski bersifat hibah. Tentu, ada kekecewaan dari pembina pada saat itu.

ROE ibarat Modal yang ada dan digunakan untuk mencapai laba/keuntungan.

Pada kasus awal, Jika uang hibah RP. 10.000.000 terserap dengan baik dan mampu menghasilkan 1 juta perbulan.

Maka, Kami berhasil mencetak ROE 10% dari modal Rp.10.000.000 yang diberikan.

Bagi investor pemula, ROE berarti efektifitas. Semakin emiten kreatif untuk menghasilkan laba dengan persentase lebih besar. Maka perusaahan tersubut tumbuh dalam kesehatan yang paripurna.

Deviden

Deviden sama dengan mata pencarian. Yup, berharap mendapatkan selisih harga dari kenaikan nilai saham, terlampau ambisius ditengah pasar global yang lesu.

Deviden, menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi bagi investor pemula. Namun, perlu diingat bahwa, subjudul deviden akan selalu berada diakhir.

Mengingat, banyak emiten membagikan deviden besar. Tidak konsisten. Maka langkah yang perlu menjadi perhatian yakni :

Pertama, pastikan emiten saham telah melalui cek PER dan ROI-nya.

Kedua, konsistensi pembagian saham dalam kurun waktu 10 tahun terakhir,

Terakhir, besaran. Nilai deviden harus lebih besar dari 9% dari nilai saham. Mengiangat, inflasi akan menggerus 2-3 % nilai uang.

Ayo Diskusi Bersama !

Nah, menarik bukan?

Masih banyak yang ingin rekan sekalian ketahui sebelum berinvestasi khususnya di pasar modal.

Kenali, analisa dan diskusikan. Karena uang adalah alat tukar paling liquid.

Kontak kami di sapa@antonnuari.net atau sosial media kami tiktok @antonnuari.idx

See You !