Jeda libur semester perkuliahan, biasanya saya gunakan untuk berkunjung ke rumah keluarga.

Tak jarang pula, saya isi dengan kerja paruh waktu seperti mengajar les privat atau membuat desain tiga dimensi sebuah bangunan.

Sepanjang perjalanan selama mengajar atau bertemu klien di angkutan umum.

Sering terbayangkan betapa nyaman lalu lalang di ibukota menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil.

Melihat daftar harga yang gila-gilaan, nampaknya entah tahun berapa untuk memiliki kendaraan roda empat tersebut.

Jika di rupiah kan, mungkin untuk harga kendaraan layak pakai sekitar delapan puluh juta keatas dengan sedikit perbaikan paska pindah tangan.

Persaingan sebuah keniscayaan

Beberapa waktu setelah melakukan migrasi dari sistem promosi offline ke online. Kami mulai merasakan dampak yang cukup signifikan.

Alokasi pembiayan untuk riset dan pengembangan pun ditambah. Maklum saja, pada segmen pendidikan cukup pelik persaingannya.

Silahkan gunakan mesin perambah cari kata kunci ‘ Homeschooling TK/SD’ wah bukan main banyaknya.

Semua bersaing sengit untuk menjadi ‘TOP LEVEL’.

Bersyukur ALABACA masih mampu bersaing. Hal ini, tidak lepas dari buah riset selama beberapa tahun.

Ketika Covid pertama kali masuk ke Indonesia tepatnya tahun 2019.

Tak lama berselang, kebijakan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar/Kecil (PSBB) digulirkan.

Semua sektor terdampak, begitu juga pendidikan.

Namun, kami menyadari kini memiliki garis ‘start’ yang sama untuk memulai kembali peta persaingan.

Jadi para kompetitor yang awalnya ‘menghegamoni market’ juga ikut tersungkur. Gubrak!.

Bukan tanpa dampak pula terhadap kondisi internal. Apalagi bila dilihat bahwa kami baru saja menikmati buah usaha sebelumnya.

Akhirnya, kesempatan ini kami ubah menjadi energi positif. Berbekal tekanan dan persepsi sama mengenai pandemi.

Musibah = Hikmah

Persamaan persepsi terhadapa bahaya pandemi memudahkan para pelaku usaha untuk bermanuver lebih cepat.

Tak perlu sulit perkampanye pentingnya a, b, c, lagi. Mengingat kebutuhan setiap orang sama.

Tersusunlah sebuah ide untuk membuat Homeschooling dengan paket ijazah setara TK dan SD.

Pilihan ini sangat realistis untuk para orang tua melanjutkan studi anak-anak tanpa takut pandemi.

Walaupun, pelaksanaannya juga tak mudah. Mulai dari guru yang harus siap di tes Antigen sampai penggunaan APD setiap kali mengajar.

Semua harus punya ‘effort’ masing-masing. Maka hal-hal ajaib pun akan datang.

Program belajar homeschooling ini membantu banyak sekali guru-guru TK konvensional yang berhenti mengajar karena TK berhenti beroperasi.

Bagi lembaga pendidikan merupakan angin segar terutama disaat genting selama pandemi yang telah berjalan lebih dari tiga tahun.

Penambahan aset berupa kendaraan roda empat untuk mobilitas usaha akhirnya terpenuhi juga.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, terlebih saat pendemi covid 19.